Pages

Jumat, 26 Desember 2014

Penilaian Autentik


Penilaian Autentik
Dalam Permendikbud No.66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan disebutkan bahwa penilaian hasil peserta didik didasarkan prinsip objektif, terpadu, ekonomis, transparan, akuntabel dan edukatif. Penilaian autentik yaitu  penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan output pembelajaran. 
Penilaian autentik menilai kesiapan peserta didik, serta proses dan hasil belajar secara utuh. Keterpaduan penilaian ketiga komponen (input–proses–output) tersebut akan menggambarkan kapasitas, gaya, dan hasil belajar peserta didik, bahkan mampu menghasilkan dampak instruksional (instructional effect) dan dampak pengiring (nurturant effect) dari pembelajaran.
Ketika menerapkan penilaian autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai  prestasi luar sekolah. Penilaian autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau guru bekerja sama dengan peserta didik.
Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013. Karena penilaian semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menanya, menalar, mencoba, dan membangun  jejaring. Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Karenanya, penilaian autentik sangat relevan dengan pendekatan saintifik dalam pembelajaran.
Hasil penilaian autentik dapat digunakan oleh pendidik untuk merencanakan program  perbaikan (remidial), pengayaan (enrichment), atau pelayanan konseling. Selain itu, hasil  penilaian autentik dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang memenuhi Standar Penilaian Pendidikan. Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penilaian sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan menggunakan jurnal, penilaian diri, dan atau penilaian antar teman. Penilaian pengetahuan melalui tes tertulis, tes lisan, dan atau penugasan. Penilaian keterampilan melalui tes praktik, penilaian proyek, dan penilaian portofolio.


Aspek penilaian autentik
Semangat kurikulum sekarang mengamanatkan bahwa kompetensi harus meliputi tiga ranah, yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan dari semua bidang.
Teknik Penilaian Autentik
a.       Penilaian kompetensi sikap
Pendidik melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat”(peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal. Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik.
1.      Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati.
2.      Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri.
3.      Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik.
4.      Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap danperilaku.
b.      Penilaian Kompetensi Pengetahuan Pendidik menilai kompetensi pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan  penugasan.
1.      Instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran.
2.      Instrumen tes lisan berupa daftar pertanyaan.
3.      Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
c.       Penilaian Kompetensi Keterampilan Pendidik menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu  penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik.
1) Tes praktik adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu aktivitas atau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi.  
2) Projek adalah tugas-tugas belajar (learning tasks) yang meliputi kegiatan  perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu.
3) Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungannya. Instrumen penilaian harus memenuhi persyaratan: 1) Substansi yang merepresentasikan kompetensi yang dinilai; 2) Konstruksi yang memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan; dan 3) Penggunaan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan tingkat  perkembangan peserta didik.

Minggu, 21 Desember 2014

Media Pembelajaran Berbasis Audio




REVIEW RADIO
Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Media dan Sumber Belajar PAI.





Dosen Pengampu            : Dr. Sukiman, M.Si
              Disusun Oleh                   : Fera Nofiana A (13410190)
                                                      
                                                            
                                                
                                      


Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2014

Nama   : Fera Nofiana A

NIM    : 13410190
Kelas   : PAI E
MQ fm
Manajemen Qalbu
Tausyiah bersama Abdullah Gymnastiar
Tentang Iman, dan ketegori orang beriman.
Banyak manusia di dunia menyelesaikan masalahnya dengan kekerasan, seperti demo dengan kerusuhan, tawuran dan perbuatan keras lainnya. Padahal kita ini, Islam adalah mayoritas di Dunia. Seharusnya agama kita adalah agama Rahmatan lil ‘alamin, islam itu indah dan islam itu damai, Islam tidak mengajarkan kekerasan. Orang yang masih melakukan itu semua mungkin Islam mereka belum masuk kedalam kategori Iman, islam dan iman itu tingkatannya berbeda, orang yang bersyahadat saja sudah tergolong islam, jika manusia sudah masuk kedalam kategori iman maka jika dia selalu memperbaiki hati nya maka dia akan masuk ke tingkat ikhsan yaitu yakin, ikhsan itu mulut, hati, sikap dan pikiran itu sejalan (sama). Orang yang beriman mempunyai rasa empati dan simpati terhadap oranglain. Jika kita ingin dihargai orang lain maka kita juga harus menghargai orang lain, jika kita ingin selalu diberikan kebaikan maka kita harus memberikan kebaikan kepada oranglain. Orang yang beriman ketika melihat saudaranya susah maka dia juga akan merasakan kesusahan orang lain dan didalam hatinya dia serasa ingin membantu saudaranya tersebut, ketika dia melihat saudaranya sedang berbahagia dan dia juga merasakan kebahagiaan dari saudaranya tersebut. Orang yang hatinya penuh dengan kedengkian, ketika melihat saudaranya mendapat kesenangan maka dia selalu mencari kesalahannya dan hati penuh dengan kebencian maka dia belum dalam kategori beriman, ketika dia melihat orang lain sedang kesusahan dan tidak sedikitpun terbesit dalam hati untuk membantu itu juga belum masuk dalam kategori beriman. Maka dari itu sebagai orang islam yang baik kita harus selalu menjaga hati kita dari perasaan iri dan dengki, tanamkan selalu kebaikan dihati kita.


Komentar :
Menurut saya siaran radio MQ fm sangatlah layak, bagus dan mendidik. Berbagai macam siaran keagamaan yang dapat menambah wawasan islam kita sangatlah bermanfaat dan banyak hikmah yang dapat diambil dari siaran tersebut seperti manajemen qalbu di pagi hari dengan diberikannya tausyiah dari ustadz ustadzah, hasanah islam di sore menjelang adzan magrib dan berbagai siaran keagamaan lainnya. Dengan siaran dari radio ini kita dapat melatih daya nalar kita dengan menghubungkan topik pembicaraan dengan kehidupan sehari-hari serta menerapkannya dimasyarakat.

Pengembangan Media OHP/OHT



PENGEMBANGAN MEDIA OHP/OHT
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Media dan Sumber Belajar PAI.



Dosen Pengampu            : Dr. Sukiman, M.Si
              Disusun Oleh                   : Sofiatul Azizah (13410148)
                                                       Fera Nofiana A (13410190)
                                                            Harun Ikhwantoro (13410193)
                                                
                                      


Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
2014



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Pengembangan media ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan  kepada baginda Nabi Muhammad  SAW beserta keluarga, shahabat, dan pengikutnya.
Penulisan makalah ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan, dukungan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya ucapkan terima kasih kepada:
1.    Bapak Rektor Universitas Islam Negeri Yogyakarta
2.    Bapak Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
3.    Bapak Suwadi selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga
4.    Bapak Sukiman selaku dosen pengampu mata kuliah Pengembangan media.
. Semoga makalah yang sederhana ini dapat menambah wawasan mengenai pengembangan media OHT/OHP dan bermanfaat bagi kita semua, serta bagi perjalanan mata kuliah Pengembangan Media. Aamiin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.




Yogyakarta, September 2014


Penyusun







Daftar Isi
Halaman Judul.................................................................................................................... i
Kata pengantar................................................................................................................... ii
Daftar isi............................................................................................................................. iii
Bab I Pendahuluan
1.1                                                                                                                                                                                                                                                                      Latar Belakang   1
1.2                                                                                                                                                                                                                                                                      Rumusan Masalah           1
1.3                                                                                                                                                                                                                                                                      Tujuan    1
Bab II Pembahasan
       2.1 Pengertiaan OHP/OHT............................................................................................ 2
...... 2.2 Macam-macam OHP/OHT...................................................................................... 2
...... 2.3 Teknik penggunaan OHP/OHT ................................................................................  5
...... 2.4 Kelebihan dan Kekurangan OHP/OHT..................................................................... 7

Bab III Penutup
...... 3.1 Kesimpulan.............................................................................................................. 9
Daftar Pustaka



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sistem overhead projector menunjukkan kemajuan yang pesat sekali dalam masa dasawarsa terakhir, sehingga perangkat audiovisual ini banyak dipakai di mana-mana. Overhead transparan yang merupakan media proyeksi yang memerlukan ba­han transparan untuk diproyeksikan, dan memerlukan perangkat un­tuk memproyeksikan media pengajaran transparan, yang disebut juga overhead projector. Tiap media memiliki kelebihan dan keterbatasan­nya sendiri, demikian pula halnya dengan media transparan ini. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih media pengajaran yang tepat adalah dengan mengkaji kelebihan dan keterbatasan suatu media.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian OHP/OHT ?
2.      Apa saja macam-macam OHP/OHT ?
3.      Bagaimana teknik penggunaan OHP/OHT ?
4.      Apa saja kelebihan dan kekurangan OHP/OHT ?
1.3  Tujuan
1.      Dapat mengetahui pengertian OHP/OHT.
2.      Dapat mengetahui macam-macam OHP/OHT.
3.      Dapat mengatahui teknik penggunaan OHP/OHT.
4.      Dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan OHP/OHT.






 BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian OHP/OHT
            Media transparansi atau overhead transparency (OHT) seringkali disebut dengan nama perangkat kerasnya yaitu OHP (overhead projector). Media transparansi adalah media visual proyeksi, yang dibuat diatas bahan transparan, biasanya film acetate atau plastik ukuran 81/2”x11”, yang digunakan oleh guru untuk memvisualisasikan konsep, proses, fakta, statistik, kerangak outline, atau ringkasan disepan kelompok kecil/besar.[1] Media ini sebagai perangkat lunak. Transparansi yang diproyeksikan adalah visualisasi berupa huruf, lambang, gambar, grafik atau gabungannya, pada lembaran bahan tembus pandang atau plastik yang dipersiapkan untuk diproyeksikan ke sebuah kayar atau dinding melalui sebuah proyektor. OHP dirancang untuk dapat digunakan didepan kelas sehingga guru selalu berhadapan atau menatap siswanya.
Over head projector atau yang kita kenal dengan OHP adalah sejenis perangkat keras (hardware)yang berfungsi untuk memproyeksikan pesan yang ditulis pada plastik transparansi, sesiau dengan namanya Over head projector (OHP) dapat diarikan sebagai alat yang dapat memproyeksikan gambar melalui atau diatas kepala ke layar atau ke tempat proyeksi lainnya yang bersifat discope (memproyeksikan secara tidak langsung). Dibandingkan dengan alat alat proyeksi lainnya,  OHP merupakan alat proyeksi yang paling sederhana, karena peralatannya hanya menggunakan sistem optik (lensa) dan elektrik (kipas pendingin dan lampu proyeksi).[2]
2.2 Macam-macam OHP/OHT.
1.      Macam-macam OHP/OHT
Dalam menggunakan Overhead projector (OHP), pertama-tama perlu diperhatikan situasi ruangan yang akan dipergunakan. Hal ini harus perlu diperhatikan situasi ruangan yang akan dipakai, antara lain adanaya aliran listrik yang memadai, sesuai dengan kebutuhan alat tersebut. Overhead  mempunyai bermacam-macam tipe diantaranya :

a.       Overhead Projector Model 5088 (portable)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNcnIAfZVqO_XBQORdUENZpC882nDV8a1nj6Vc1VAOE9Hq1L65ArNFr6dETkQatAv2042EMA4MelNWyCtzMRANWngXmYBRKrAAk3IjYfOM0gjdu11yqhdQOm_INym8vQUC-eQYXS1blYLX/s400/1.jpg





Overhead ini tidak bersuara, tapi membutuhkan tegangan listrik antara 110/220 Volt dengan daya 480 Watt/50Hz. Berat keseluruhan = 9,07 kg, dengan panjang kabel = 4,5 m, ukuran 322x343x3 mm, tinggi dengan head lens= 45,7 cm. ON-OFF switch tidak diperlukan, sebab lampu langsung berhubungan dengan udara luar. Projection stage 254x254 mm (10”x10”), dengan focal length 366 mm. Single optical menghasilkan cahaya yang terang rata-rata sekitar 1800 lumens, dan dapat memproyeksikan kurang dari 10 sampai lebih dari 35.[3]
b.      Overhead Projector Model 6202 (Portable)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFNEPb0GksrbZsKejQXF9hY4WokCv-RRXpMtKGnjR63l6Tqkl6nxboq10iK1k546HAKEB72du6l8FdFbGSZOTPlyHMmZoTWGaAi3-cfWZ4v5eA_xMe3fFONSZ89PTK_IsTdw3DXekAOwpc/s320/4.jpg

                                                                     




Alat ini membutuhkan tegangan lsitrik 220 volt, daya 200 watt dengan berat 10,4 kg. panjang kabel 3,05 m. sistem pendinginan tidak diperlukan sebab lampu langsung berhubungan dengan udara luar dan pemakaian daya kecil. Triplet optical projection head= 317 mm, projection stage 285x285 mm, terang 2100 lumens. Berbagai macam overhead harus diproyeksiskan setelah sinar menyala dari overhead projector. Sinar dari overhead projector akan diterima oleh layar atau yag disebut layar portable matte white; dan akan tampak jelas bahan-bahan yang ditulis dalam transparansi.[4]

c.       Overhead Projector Model 213 (large body)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpZc1qzlN_6nQlbzy0lOgEixVG3-WsJTkqaUCLQLtQ4meeJ6J2erpfhWkI3yjctunBG6hntS8MH1Tdhp8OU6bZRLWjDpTF13DZj2T2cmh_VdA0__02XeuJA6wgw6Bzm7Ew0SzLDWL2dRFT/s400/2.jpg






Alat ini hampir tidak bersuara (suara kipas sangat halus). Tegangan lsitrik yang diperlukan 220 Volt/50 Hz, dengan saya yang dibutuhkan sekitar 360 Watt. Berat keseluruhan 13, 9 kg; panjang kabel 5 m, dengan tempat penyimpanan secara khusus. Ukuran badan 380x405x240 mm, juga dapat ditambah dengan memasang roll attachement. Sistem penyinaran dan pendinginan tidak langsung dari lampu keatas transparansi film. Panas ruangan dinetralisasi oleh adanya kipas angin. Penyinaran menggunakan sistem srticulate head optic yang menghasilkan cahaya terang dan rata, dengan focal length 355 mm (14,2”). Terangnya cahaya sekitar 2300 lumens. Pengaturan cahaya dapat memproyeksikan tranparansi film dari 0-30 dengan jarak antara 1,5m- 3,5m. Projection stage =267x267 mm dengan sistem pengaman ganda. Kipas angin sebagai alat pendinginan dilengkapi dengan thermostat otomatis; dan dilengkapi pula dengan switch pengaman lampu sewaktu penggantian lampu. Penggantian lampu mudah dilakukan serta kontak ON-OFF juga mudah dijangkau.[5]


d.      Overhead Projector Model 213 ( semi portable)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-9bazVgUyQLoyEnDQoJeN0eHm9gFkpNOViH62QzBwZM4wCupM4Mi1M5LnE5uGo3M1OiZvIi7TSfMnVj1UyOvo1DBCyezAbF1719zMpe3gDSNKIkbKA5vqjnFVOGa-kdmm8QYF2clOShcj/s400/3.jpg




                                                                                                             
Alat ini tidak bersuara. Menggunakan aliran listrik sebesar 220 Volt, 360 Watt, 50 Hz, panjang kabel = 5 m dan ada tempat penyimpanan khusus, berat =13,3 kg, ukuran 355x400x200 mm dengan tambahan dipasang roll attachement. Sistem pendinginan lampu tidak langsung ke alas transparansi, ruang panas dilokalisasi, pada ruangan tersebut ada kipas angi. Standard doublet optic yang menghasilkan cahaya terang dan rata. Focal length 355 mm (14,2”), terang cahaya 2300 lumens, dan rata. Ada pengatur cahaya yang memproyeksikan tranparansi film 0-25 proyeksi amat etrbaik antara 1,5 sampai dengan 4,5 m. Projection stage 254x254 mm (10”x10’) dengan sistem pengamanan ganda thermostat otomatis untuk kipas angin dan jika kita buka pintu tempat penggantian lampu otomatis arus lampu terputus. On-Off switch mudah dijangkau; penggatian lampu mudah dan cepat. Alas untuk tranparansi terdiri atas lensa plastik yang biasa disebut fresnellens 3 mm yang dilapisi 2 kaca yang kuat serta mudah dibersihkan dan tidak menyilaukan.[6]
2.3 Teknik penggunaan OHP/OHT
Cara menggunakan OHP , pertama-tama perlu diperhatikan situasi ruangan yang akan dipergunakan. Ini berarti harus memperhatikan situasi ruangan yang dipakai, antara lain adanya aliran listrik yang memadai sessuai dengan kebutuhan alat tersebut.
a.       Letakkan transparansi dengan tepat pada saat lampu OHP dimatikan;
b.      Nyalakan OHP dengan menekan tombol ON;
c.       Setelah OHP menyala, atur fokus pencahayaan;
d.      Atur refleksi lensa;
e.       Penyaji (komunikator) tetap menghadap terus ke arah peserta (komunikan);
f.        Tidak menunjuk sesuatu di permukaan layar, tetapi cukup menunjuk pada permukaan transparansi;
g.       Mematikan lampu untuk mengalihkan perhatian peserta (komunikan);
h.       Menutup dengan sebagian tulisan atau gambar yang belum diperlukan untuk menuntun perhatian presentasi.
Penggunaan Ohp/Oht
1.      Dengan alat penunjuk
Dengan menggunakan pensil atau pointer, guru dapat menekankan perhatian siswa pada hal-hal yang dipentingkan. Penunjuk diletakkan di atas transparansi bukan layar.
2.      Menulis langsung
Menulis di atas transparan pada waktu menyajikan sangat menarik perhatian bahkan pada transparan yang telah disiapkan sebelumnya, dapat ditambahkan tulisan, pada waktu penyajian dengan pen khusus. Pen yang digunakan mempunyai spesipikasi warna, ukuran ( kecil, sedang dan besar) dan jenis (prmanen dan solubel).
3.      Menunjukkan dengan membuka sedikit demi sedikit
4.      Teknik ini penting untuk mengontrol siswa agar hanya memperhatikan masalah yang disajikan secara urut, dengan menutup bagian yang belum diproyeksikan.
5.      Menjelaskan cara kerja benda[7]

2.4 Perawatan media OHP/OHP
            Beberapa rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam merawat bahan transparan sebagai berikut :
a)      Simpanlah transparansi dalam sampul atau map pelindung.
b)      Pisahkan helai demi helai tranparansi dengan kertas supaya gambarnya tidak terkikis atau kena bekas jari tangan.
c)      Jangan membiarkan transparansi terlalu lama kena panas atau cahaya, dan bersihkanlah permukaannya dari debu, kotoran kecil atau bekas jari.[8]
2.5 Kelebihan dan Kekurangan OHP/OHT.
            Berikut ini merupakan beberapa kelebihan media OHP sebagai media pembelajaran.
a.       Pantulan proyeksi gambar dapat terlihat jelas pada ruangan yang terang sehingga guru dan murid tetap dapat saling terlihat.
b.      Dapat menjangkau kelompok yang besar.
c.       Guru dapat bertatap muka dengan siswa karena OHP dapat diletakkan di depan kelas dan dengan demikian, ia selalu dapat mengendalikan kelasnya.
d.      Transparansi dapat dengan mudah dibuat sendiri oleh guru, baik yang dibuat secara manual maupun yang melalui proses cetak, salin, dan kimia.
e.       Peralatannya mudah dioperasikan dan tidak memerlukan perawatan khusus.
f.        Memiliki kemampuan untuk menampilkan warna.
g.       Dapat disimpan dan digunakan berulang kali.
h.       Dapat dijadikan pedoman dan penuntun bagi guru dalam penyajian materi.[9]
i.         Benda-benda kecil dapat diproyeksikan hanya dengan meletakannya di atas OHP, walaupun hasilnya berupa bayang-bayang.
j.        Tidak memerlukan tenaga bantuan operator dalam menggunakan OHP karena mudah dioperasikan.
k.      Lebih sehat daripada papan tulis.
l.         Praktis dapat dipergunakan untuk semua ukuran kelas ruangan.
m.     Mempunyai variasi teknik penyajian yang menarik dan tidak membosankan, terutama untuk proses yang kompleks dan bertahap.
n.       Sepenuhnya dibawah kontrol guru.
o.      Dapat digunakan sebagai petunjuk sistematika penyajian guru, dan apabila menggunakan bingkai, catatan-catatan tambahan untuk mengingatkan si guru dapat dibuat diatasnya.
p.      Dapat menstimulasi efek gerak yang sederhana dan warna pada proyeksinya dengan menambahkan alat penyajian tertentu.[10]
Sedangkan keterbatasan penggunaan OHP sebagai media pembelajaran adalah sebagai berikut.
a.       Fasilitas OHP harus tersedia.
b.      Listrik pada ruang atau lokasi penyajian harus tersedia.
c.       Tanpa layar yang dapat dimiringkan, sulit untuk mengatasi distorsi tayangan yang berbentuk trapezium (keystoning)
d.      Harus memiliki teknik khusus untuk pengaturan urutan, baik dalam hal penyajian maupun penyimpanan.[11]
e.       Pemakaiannya terbatas hanya sebagai alat bantu pembelajaran baik bagi guru maupun peserta didik jarang dapat digunakan sebagai medium instruksional.
f.        Pendistribusiannya rumit (baik pendistribusian lembar demi lembar maupun pendistribusian dalam set), tidak seperti film rangkai yang lebih ringkas. Transparansi multiwarna, baik yang diproduksi secara lokal maupun komersial, mungkin malah lebih mahal dari produksi film bingkai.
g.       Kalau sedang menggunakan OHP, sewaktu mengganti transparansi, ada kekosongan yang menyilaukan dilayar.
h.       Karena didesain untuk dipergunakan dalam proyeksi didepan layar, jarang digunakan untuk proyeksi dari proyeksi dari belakang, kecuali dalam keadaan luar biasa. Kalau format transparansi akan ditransfer ke film bingkai 35 mm atau dijadikan selebaran tercetak, hal-hal seperti skala, proporsi, ukuran huruf dan garis pinggir harus diperhatikan sekali, karena perbandingan ukuran masing-masing media itu tidak sama.
i.         Kalau diperlukan banyak sekali visual akan menyebabkan kerepotan dan menyusahkan untuk dibawa kemana-mana.





BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
                Over head projector atau yang kita kenal dengan OHP adalah sejenis perangkat keras (hardware)yang berfungsi untuk memproyeksikan pesan yang ditulis pada plastik transparansi, sesiau dengan namanya Over head projector (OHP) dapat diarikan sebagai alat yang dapat memproyeksikan gambar melalui atau diatas kepala ke layar atau ke tempat proyeksi lainnya yang bersifat discope (memproyeksikan secara tidak langsung).
OHP merupakan alat bantu presentasi visual yang digunakan untuk memproyeksikan tulisan atau gambar pada transparancy film yang diletakkan di atas OHP. Dengan menggunakan proyektor, informasi yang akan disampaikan dapat diproyeksikan ke layar, sehingga informasi berupa: tulisan, gambar, bagan, dll akan menjadi lebih besar dan lebih jelas dilihat oleh siswa. Penggunaan media proyeksi ini lebih menguntungkan, sebab indera pendengaran dan penglihatan akan sama-sama diaktifkan melalui sebuah media transparansi yang telah disiapkan. Yang dimaksud dengan gambar mati (still picture) adalah berupa: gambar, foto, diagram, tabel, ilustrasi dll, baik berwarna ataupun hitam-putih yang relatif berukuran kecil, agar gambar tersebut dapat dilihat atau disaksikan dengan jelas oleh seluruh siswa di dalam kelas dengan jalan diproyeksikan ke suatu layar (screen) .


[1] Sukiman.Pengembangan Media Pembelajaran.(Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani 2012) hlm 123.
[2] Prof. Dr. Wina Sanjaya, Media Komunikasi Pembelajaran, Jakarta : Kencana, 2012, Cet.1, Ed.1, Hal.175.
[3] DR.Nana Sudjana dan Drs. Ahmad Rivai.media pembelajaran.2009.bandung:sinar baru algensindo.hal 99
[4] Ibid hal 99
[5] Ibid.hal 100
[6] Ibid.hal 101
[7] http://ceva24chandra.blogspot.com/2011/06/makalah-overhead-projector.html
[8] Sukiman.Pengembangan Media Pembelajaran.(Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani 2012) hlm 129.
[9] Kustandi, Cecep.Bambang Sutjipto.Media pembelajaran.(Bogor: Ghalia Indonesia 2013) hlm 62-63.
[10] Sukiman.Pengembangan Media Pembelajaran.(Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani 2012) hlm 127-128.
[11] Kustandi, Cecep.Bambang Sutjipto.Media pembelajaran.(Bogor: Ghalia Indonesia 2013) hlm 63.



DAFTAR PUSTAKA
Sudjana, Nana.Ahmad Rivai.2009.Media Pengajaran.Bandung:  Sinar Baru Algesindo.
Kustandi, Cecep.Bambang Sutjipto.2013.Media pembelajaran.Bogor: Ghalia Indonesia.
Hamzah Suleiman, Amir.1988.Media Audio-Visual.Jakarta: PT Gramedia.
Sukiman.2012.Pengembangan Media Pembelajaran.Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani.
Sanjaya, Wina.2012. Media Komunikasi Pembelajaran. Jakarta : Kencana
http://ceva24chandra.blogspot.com/2011/06/makalah-overhead-projector.html